Inflasi Amerika Serikat
Inflasi masih menjadi isu sentral dalam perekonomian Amerika Serikat (AS). Federal Reserve (The Fed) terus memantau dinamika harga untuk menentukan arah kebijakan suku bunga. Tiga indikator utama yang selalu diperhatikan pasar dan otoritas moneter adalah Consumer Price Index (CPI), Producer Price Index (PPI), dan Personal Consumption Expenditures (PCE) Price Index.
1. Consumer Price Index (CPI)
Laporan CPI mengukur rata-rata perubahan harga barang dan jasa yang dikonsumsi rumah tangga. Data ini sering menjadi acuan pertama bagi pelaku pasar karena rilisnya lebih awal dibanding indikator lainnya.
Pergerakan CPI sering memicu reaksi cepat di pasar keuangan, meski The Fed tidak menjadikan CPI sebagai acuan resmi dalam pengambilan keputusan suku bunga.

2. Producer Price Index (PPI)
Laporan PPI mengukur perubahan harga yang diterima produsen pada tingkat grosir. Indikator ini dianggap sebagai “leading indicator” karena kenaikan harga di tingkat produsen sering kali diteruskan ke konsumen.
- Jika PPI naik tajam, pasar biasanya mengantisipasi inflasi konsumen yang lebih tinggi di periode berikutnya.
- Namun, transmisi dari PPI ke CPI tidak selalu langsung karena bergantung pada margin dan rantai distribusi.

3. Personal Consumption Expenditures (PCE) Price Index
PCE Price Index adalah indikator inflasi favorit The Fed. Laporan ini dirilis oleh Bureau of Economic Analysis (BEA) dan memiliki cakupan lebih luas daripada CPI.
- Keunggulan PCE: mencakup pengeluaran konsumen yang lebih beragam, memperhitungkan substitusi barang, serta sering direvisi agar lebih akurat mencerminkan tren jangka menengah.
- PCE Inti (tanpa pangan dan energi) adalah acuan utama The Fed dalam menilai keberhasilan mencapai target inflasi 2%.

Laporan CPI dan PPI tetap penting sebagai sinyal awal pergerakan harga, namun PCE Price Index adalah penentu akhir dalam arah kebijakan suku bunga The Fed. Saat ini, setiap rilis PCE diamati ketat oleh pasar karena akan menentukan apakah bank sentral perlu menahan suku bunga tinggi lebih lama atau mulai melonggarkan kebijakan.
Dengan demikian, laporan PCE menjadi kunci utama dalam membaca arah inflasi AS sekaligus jalur suku bunga The Fed ke depan.
Dampak PCE dalam Kebijakan The Fed
The Fed secara eksplisit menargetkan inflasi dengan ukuran Core PCE di kisaran 2%, sehingga PCE, khususnya Core PCE, menjadi tolok ukur utama dalam menetapkan kebijakan suku bunga. Meskipun inflasi utama (CPI dan PCE) menunjukkan momentum pendinginan yang relatif, Core PCE yang masih di atas 2% (saat ini di kisaran 2,8%–2,96%) menunjukkan tekanan harga inti masih kuat dan berkelanjutan.
The Fed telah mempertahankan suku bunga di tingkat tinggi (4,25–4,50 %) selama beberapa kali pertemuan kebijakan terakhir. Penguatan laporan PCE ini menegaskan sikap “data-dependent” dan kecenderungan “hawkish”: tidak akan menurunkan suku bunga sebelum ada bukti kuat inflasi inti benar-benar turun mendekati target.
Lonjakan angka PPI yang mendahului kenaikan CPI memperkuat ekspektasi bahwa inflasi mungkin belum sepenuhnya mereda. Meski CPI telah agak stabil, tekanan dari tingkat produsen dapat masuk ke konsumen dalam beberapa bulan mendatang—menambah alasan The Fed untuk tetap berhati-hati.
FOMC menyatakan bahwa mereka ingin melihat “total data inflasi dan ketenagakerjaan selama dua bulan” sebelum memutuskan perubahan kebijakan. Laporan PCE Agustus dan September akan sangat penting dalam menentukan arah The Fed selanjutnya.
Menurunnya Core PCE secara signifikan ke kisaran 2 % adalah sinyal kunci yang ditunggu pasar guna membuka ruang penurunan suku bunga.
Lonjakan PPI dan bertahannya Core PCE mendukung penguatan dolar karena memperkuat spekulasi bahwa The Fed akan tetap menahan suku bunga tinggi. Indeks dolar berpotensi naik, khususnya terhadap mata uang dengan bank sentral yang lebih dovish (JPY, EUR dan AUD).
OUTLOOK DOLAR AS

Secara teknis, berdasarkan grafik H4, indeks dolar masih bergerak dalam range sideways 97.56-98.84. Fluktuasi yang terjadi terlihat bias bullish dan rebound karena pola Higher Low Higher High. Sentimen bullish akan menjadi intensif jika XAUUSD mampu menembus batas atas 98.84.
Sementara gerak koreksi masih akan terbatas pada garis tren support 97.95 untuk kemudian berpeluang untuk rebound atau berbalik bullish.